TIM REDAKSI (MR) Lambu - Kawan, kita sebaya. Hanya bulan
yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa
bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah
payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan
dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah
anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan
kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba
politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang
memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup
dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita
berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka.
Di
negeri permai ini, politik hanyalah kata-kata sementara benci menjadi
kenyataan. Para penguasa tidak pernah mencintai apapun yang mereka lakukan,
mereka hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Mereka tidak mensyukuri
berkah yang mereka dapatkan, mereka hanya ingin menghabiskannya. mereka enggan
berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama
kebahagiaan mereka. Kawan, inilah kenyataan politik memilukan yang kita hadapi
hari ini, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka.
Bayangkan
adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam
keadaan demikian. Kawan, politik adalah persoalan kebiasaan. politik juga
masalah prinsip. Bila kau terjun kedunia politik, maka kau tidak akan peduli dengan yang
lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang
suka mencuci muka, tapi kau suka bermuka kepada kuli kamera. Politik adalah
kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah. Tapi politik haya akan
menghancurkan generasi-generasi, dan membuat sengsara rakyat jelata. Hari-hari
belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Jutaan orang lantang
bersuara demi mendapatkan keadilan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa.
Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penguasa.
Sejujurnya, kami tidak mengharapkan janji manis para penguasa. Kami hanya
menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama
bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tetapi kebahagiaan bersumber
pada cinta dan solidaritas. Perjuangkanlah aspirasi rakyat layaknya seorang
pemimpin yang tegas dan suci.
Posting Komentar