Ardiansyah, S.Pd., Berceloteh
tentang Dunia “DEMOKRASI” Dunianya Para Elit
Perasaanku mulai bosan dengan
keadaan demokrasi seperti ini, saya bosan dikarenakan demokrasi hanya dinikmati
segelintir orang saja, siapa yang kuat dialah yang berkuasa, itulah falsafah
hidup demokrasi, terkadang saya berpikir dan berkata didalam hati “Apa Urusanku dengan Demokrasi, toh saya masih
bisa makan satu kali sehari bahkan tidak makan sekalipun demokrasi bukan urusan
saya, karena Begron saya Pendidikan bukan Demokrasi”. Itu hanya perasaanku
saja nda usah dihiraukan.
Dengan pertanyaan yang sederhana
saya bertanya, Bukankah Demokrasi itu “dari RAKYAT untuk RAKYAT” ?, apakah
falsafah ini tidak lagi bermakna ? sehingga begitu mudahnya diabaikan, ataukah
hanya sekedar tulisan indah yang berbentuk hiasan saja ? pertanyaan inilah yang
terus menjadi beban pikiran saya, terkadang saya bingung sendiri, siapa yang
akan menjawab pertanyaan saya, masa saya sendiri yang menjawabnya, yaa nda bisa
gitu dong, setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban dan jawabannya bukan dari
orang yang bertanya.
Dunia “DEMOKRASI” hanya dimiliki
oleh para elit. Puluhan bahkan Miliaran Rupiah uang yang harus kita kantong
untuk bisa menikmati demokrasi dengan bersandar di Label Partai Politik, begitu
mahalnya bagi yang ingin menikmati demokrasi, karena demokrasi hanya milik
orang yang berduit, kalau orang seperti saya sih nda’ mungkinlah, untuk makan
saja saya masih berpikir, apalagi bapak saya seorang petani biasa dan
penghasilannya pun tidak menentu, tapi saya masih bisa bersyukur atas
karunia-Nya. Sebagian orang demi menikmati demokrasi, mereka rela melenturkan
lidahnya demi untuk mendapatkan uang dalam berdemokrasi dan masuk di Partai
Politik, tiada urusan bagi mereka masalah halal dan haram, semuanya
disamaratakan, inilah cikal bakal munculnya para Koruptor, koruptor Ibarat
Hewan Insekta (Serangga) yang tugas menghisap uang Negara yang membuat
Pestisida (KPK) dan Herbisida (MK/MA) kerepotan untuk membasmihnya, berbagai
bahan campuran dan olahan terus dipelajari dan dikembangkan untuk membasmih
Hewan Insekta ini, tapi masih tumbuh berkembang didunia demokrasi, “Koruptor Tumbuh dengan Subur Dinegeriku
yang Tandus”.
Terkait masalah demokrasi ada
salah seorang dosen saya, beliau berkata pada kami sebagai mahasiswanya “Itu Bukan Urusan Kita, Serahkan Pada
Ahlinya” emang benar apa yang dikatakan dosen saya, beliau juga melanjutkan
“Secara Tidak Langsung Kita Juga
Berdemokrasi, dengan menggunakan Hak Pilih dan Memilih, itulah demokrasi”.
Senin (7/4/2014) Lalu, semuanya benar nda ada yang salah, apalagi demokrasi ini
umurnya sudah dewasa, kalau diibaratkan dengan manusia, sudah bisa membedakan
mana yang baik dan buruk, tapi yang menjadi persoalan ketika Demokrasi itu
dicederai oleh segelindir orang yang mengatas namakan rakyat demi kantong
pribadi.
Fakta yang terjadi saat ini yang
paling hoot di berbagai media, yaitu dikembalikannya pemilihan langsung lewat
DPRD dengan dirancangnya UU PEMILU Lewat DPRD, hal ini banyak menuai
kontroversi, sehingga timbulnya penolakan dari berbagai pihak, bahkan Gebernur,Wali Kota dan Bupati Se-Indonesia menolak disahkannya UU Pemilu Lewat DPRD, ketika
UU itu disahkan, ini jelas akan dirombak kembali seluruh tatana kehidupan
bernegara yang selama ini sudah kita tata sedemikian rupa, beranjak dari itu,
kita mulai lagi dari “NOL” untuk membangun negeri ini, kita akan tertinggal
trus, dan akan menjadi Negara yang tertinggal selamanya, kalau begini terus,
sampai kiamatpun negara ini akan terus tertinggal dan tidak akan maju. Jika UU
Lewat DPRD disahkan, maka sistem demokrasi akan berbalik arah 180o,
dengan Falsafah “Dari Elit untuk Elit”, nda ada campur tangan Masyarakat,
masyarakat hanya dijadikan hiasan panggung dunia untuk para Elit yang berkuasa.
Kebebasan berpendapat tidak ada lagi, berbagai ORMAS dan ORMAH akan di
Lenyapkan di muka bumi ini, bagi yang menentang kebijakan pemerintah akan di
tembak mati ditempat, seluruh rakyat akan dijadikan budak di Negeri sendiri,
diam seribu kesunyian, dan masyarakat hanya dijadikan bola pimpong yang siap
mainkan setiap saat.
Fakta yang terjadi saat ini, hati
bertambah resah ketika ruang gerak mahasiswa dibatasi oleh para Elit kampus,
ini terjadi saat kami mengalami kebingungan mencari solusi untuk melakukan
DIKSAR diluar kampus, kami bingung mencari waktu luang untuk mendidik mental
adek-adek mahasiswa jurusan, supaya tidak bermental cengeng dan kerupuk. Dulu
Hari sabtu dan minggu adalah waktu luang buat mahasiswa untuk melakukan
kegiatan ekstra kampus, sekarang hari itu tidak lagi kami dapatkan ketika
dikeluarkannya UU tentang Pelarangan melakukan aktivitas luar kampus pada hari
tersebut, apa jadinya kalau mahasiswa seperti ini, mahasiswa akan menjadi budak
idiologi yang menelan mentah-mentah apa yang disuap, tanpa melihat dan
mengunyah sebelumnya, ini adalah kisah menyedihkan bagi mahasiswa sepanjang
sejarah, mahasiswa akan diperbudak, dan nantinya mahasiswa akan seperti Pegawai
Kantor yang nurut saja sama atasan, dan fokus pekerjaan tanpa mengetahui kondisi
dan nama temannya, seperti itulah nantinya mahasiswa, bahkan menyapa teman
kelasnyapu nda berani, kanapa demikian, dikarenakan terjadinya krisis mental
pada mahasiswa, yang dulunya menyuarakan “Hidup Mahasiswa” dengan suara
lantang, tapi sekarang “Mati Mahasiswa” dengan suara sedikit terputus, karena
mau mati.... Senin (15/9)
Baca Juga : INDONESIA ADALAH IBU KANDUNGMU
Posting Komentar