Home » » Dunia “DEMOKRASI” Dunianya Para Elit

Dunia “DEMOKRASI” Dunianya Para Elit

Written By Unknown on Rabu, 24 September 2014 | 20.06



Ardiansyah, S.Pd., Berceloteh tentang Dunia “DEMOKRASI” Dunianya Para Elit 

Perasaanku mulai bosan dengan keadaan demokrasi seperti ini, saya bosan dikarenakan demokrasi hanya dinikmati segelintir orang saja, siapa yang kuat dialah yang berkuasa, itulah falsafah hidup demokrasi, terkadang saya berpikir dan berkata didalam hati “Apa Urusanku dengan Demokrasi, toh saya masih bisa makan satu kali sehari bahkan tidak makan sekalipun demokrasi bukan urusan saya, karena Begron saya Pendidikan bukan Demokrasi”. Itu hanya perasaanku saja nda usah dihiraukan. 

Dengan pertanyaan yang sederhana saya bertanya, Bukankah Demokrasi itu “dari RAKYAT untuk RAKYAT” ?, apakah falsafah ini tidak lagi bermakna ? sehingga begitu mudahnya diabaikan, ataukah hanya sekedar tulisan indah yang berbentuk hiasan saja ? pertanyaan inilah yang terus menjadi beban pikiran saya, terkadang saya bingung sendiri, siapa yang akan menjawab pertanyaan saya, masa saya sendiri yang menjawabnya, yaa nda bisa gitu dong, setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban dan jawabannya bukan dari orang yang bertanya.

Dunia “DEMOKRASI” hanya dimiliki oleh para elit. Puluhan bahkan Miliaran Rupiah uang yang harus kita kantong untuk bisa menikmati demokrasi dengan bersandar di Label Partai Politik, begitu mahalnya bagi yang ingin menikmati demokrasi, karena demokrasi hanya milik orang yang berduit, kalau orang seperti saya sih nda’ mungkinlah, untuk makan saja saya masih berpikir, apalagi bapak saya seorang petani biasa dan penghasilannya pun tidak menentu, tapi saya masih bisa bersyukur atas karunia-Nya. Sebagian orang demi menikmati demokrasi, mereka rela melenturkan lidahnya demi untuk mendapatkan uang dalam berdemokrasi dan masuk di Partai Politik, tiada urusan bagi mereka masalah halal dan haram, semuanya disamaratakan, inilah cikal bakal munculnya para Koruptor, koruptor Ibarat Hewan Insekta (Serangga) yang tugas menghisap uang Negara yang membuat Pestisida (KPK) dan Herbisida (MK/MA) kerepotan untuk membasmihnya, berbagai bahan campuran dan olahan terus dipelajari dan dikembangkan untuk membasmih Hewan Insekta ini, tapi masih tumbuh berkembang didunia demokrasi, “Koruptor Tumbuh dengan Subur Dinegeriku yang Tandus”.

Terkait masalah demokrasi ada salah seorang dosen saya, beliau berkata pada kami sebagai mahasiswanya “Itu Bukan Urusan Kita, Serahkan Pada Ahlinya” emang benar apa yang dikatakan dosen saya, beliau juga melanjutkan “Secara Tidak Langsung Kita Juga Berdemokrasi, dengan menggunakan Hak Pilih dan Memilih, itulah demokrasi”. Senin (7/4/2014) Lalu, semuanya benar nda ada yang salah, apalagi demokrasi ini umurnya sudah dewasa, kalau diibaratkan dengan manusia, sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, tapi yang menjadi persoalan ketika Demokrasi itu dicederai oleh segelindir orang yang mengatas namakan rakyat demi kantong pribadi.

Fakta yang terjadi saat ini yang paling hoot di berbagai media, yaitu dikembalikannya pemilihan langsung lewat DPRD dengan dirancangnya UU PEMILU Lewat DPRD, hal ini banyak menuai kontroversi, sehingga timbulnya penolakan dari berbagai pihak, bahkan Gebernur,Wali Kota dan Bupati Se-Indonesia menolak disahkannya UU Pemilu Lewat DPRD, ketika UU itu disahkan, ini jelas akan dirombak kembali seluruh tatana kehidupan bernegara yang selama ini sudah kita tata sedemikian rupa, beranjak dari itu, kita mulai lagi dari “NOL” untuk membangun negeri ini, kita akan tertinggal trus, dan akan menjadi Negara yang tertinggal selamanya, kalau begini terus, sampai kiamatpun negara ini akan terus tertinggal dan tidak akan maju. Jika UU Lewat DPRD disahkan, maka sistem demokrasi akan berbalik arah 180o, dengan Falsafah “Dari Elit untuk Elit”, nda ada campur tangan Masyarakat, masyarakat hanya dijadikan hiasan panggung dunia untuk para Elit yang berkuasa. Kebebasan berpendapat tidak ada lagi, berbagai ORMAS dan ORMAH akan di Lenyapkan di muka bumi ini, bagi yang menentang kebijakan pemerintah akan di tembak mati ditempat, seluruh rakyat akan dijadikan budak di Negeri sendiri, diam seribu kesunyian, dan masyarakat hanya dijadikan bola pimpong yang siap mainkan setiap saat. 

Fakta yang terjadi saat ini, hati bertambah resah ketika ruang gerak mahasiswa dibatasi oleh para Elit kampus, ini terjadi saat kami mengalami kebingungan mencari solusi untuk melakukan DIKSAR diluar kampus, kami bingung mencari waktu luang untuk mendidik mental adek-adek mahasiswa jurusan, supaya tidak bermental cengeng dan kerupuk. Dulu Hari sabtu dan minggu adalah waktu luang buat mahasiswa untuk melakukan kegiatan ekstra kampus, sekarang hari itu tidak lagi kami dapatkan ketika dikeluarkannya UU tentang Pelarangan melakukan aktivitas luar kampus pada hari tersebut, apa jadinya kalau mahasiswa seperti ini, mahasiswa akan menjadi budak idiologi yang menelan mentah-mentah apa yang disuap, tanpa melihat dan mengunyah sebelumnya, ini adalah kisah menyedihkan bagi mahasiswa sepanjang sejarah, mahasiswa akan diperbudak, dan nantinya mahasiswa akan seperti Pegawai Kantor yang nurut saja sama atasan, dan fokus pekerjaan tanpa mengetahui kondisi dan nama temannya, seperti itulah nantinya mahasiswa, bahkan menyapa teman
kelasnyapu nda berani, kanapa demikian, dikarenakan terjadinya krisis mental pada mahasiswa, yang dulunya menyuarakan “Hidup Mahasiswa” dengan suara lantang, tapi sekarang “Mati Mahasiswa” dengan suara sedikit terputus, karena mau mati.... Senin (15/9)

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. MR - Lambu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger