Home » » Angin Pagi Lambang "KEDAMAIAN"

Angin Pagi Lambang "KEDAMAIAN"

Written By Unknown on Minggu, 21 September 2014 | 19.05

Ardiansyah, S.Pd - Di internet khususnya, ada banyak sahabat yang takut sekali dengan kelompok tertentu yang dikabarkan menghabisi nyawa orang lain secara jauh dari manusiawi. Akibatnya, terjadi ketakutan di sana-sini. Ibarat lingkungan yang sudah gelap oleh mendung, ketakutan menambahkannya lagi dengan awan gelap yang lain.

Di zaman dulu, pernah ada film berjudul licence to kill. Semacam lisensi atau hak bagi orang-orang tertentu untuk membunuh orang lain. Setelah dipelajari secara mendalam, lisensi (izin) itu turun dari keyakinan merasa diri paling benar. Karena merasa diri paling benar, kemudian orang-orang yang berbeda tidak diberi hak untuk hidup.
Bila ini yang disebut kebenaran, betapa menakutkannya kebenaran. Pilosofi, agama, pengetahuan yang mencari di ladang-ladang kebenaran, bisa menjadi wilayah-wilayah yang sangat membakar kemudian. Di titik inilah, jiwa memerlukan keindahan.

Tiap manusia yang tertarik pada lawan jenis, mereka disebut jatuh cinta. Sederhananya, kesadaran seseorang sedang jatuh dari kepala menuju hati. Kebenaran lebih dekat dengan kepala, keindahan lebih dekat dengan hati. Itu sebabnya, orang-orang yang jatuh cinta merasakan hadirnya keindahan di mana-mana.

Tidak semua masuk di akal, tidak semua bisa dijelaskan, tapi bisa dirasakan kalau ada keindahan yang hadir di dalam hati. Ini yang bisa menjelaskan kenapa Hellen Keller pernah berpesan: “Yang terindah dalam hidup tidak bisa dilihat dengan mata biasa, ia hanya bisa dilihat oleh mata hati”. Dalam bahasa film Little Princess, hanya hati yang bisa membawa jiwa pulang.
Ini menghadirkan keingintahuan, apa beda antara kepala dengan hati? Kepala adalah tempat yang jauh dari pusat keheningan di dalam, hati berada jauh lebih dekat dengan pusat keheningan di dalam. Itu sebabnya kepintaran suka memisah-misahkan realita ke dalam salah-benar, buruk-baik. Kemudian membuat semuanya saling bertempur. Akibatnya, kehidupan bertumbuh menjauh dari pusat keheningan di dalam.

Meminjam dari Krisnamurti, sejauh kepala penuh dengan dualitas dan konflik, jangankan uang dan kekuasaan, bahkan agama dan Tuhan pun menimbulkan konflik. Sedihnya, manusia sudah hidup terlalu lama dalam konflik ala kepala seperti ini. Dan belum ada tanda-tanda peradaban akan keluar dari akar konflik ini.

Bila kepintaran suka memisah-misahkan, kebaikan sebagai bahasa hati sibuk membangun jembatan dengan semuanya. Di hati sering terdengar pesan seperti ini: “Berbaik hatilah pada kekuatan kegelapan. Hanya karena ada kegelapan kita bisa mengerti cahaya”. Di waktu lain, hati pernah berpesan: “Anda semua adalah cahaya. Bahkan kegelapan pun adalah cahaya yang sedang berevolusi”.

Bagi tiap jiwa indah yang berumah di hati, memasuki gerbang ke-u-Tuhan lebih menarik dari berdebat soal Tuhan, merasakan hadirnya keindahan lebih menawan dari berdebat soal kebenaran. Itu sebabnya, orang-orang jenis ini sangat jarang membicarakan Tuhan (God), waktunya habis untuk membadankan kualitas-kualitas ke-Tuhanan yang ada di dalam diri (godliness).

Inilah perjalanan spiritual dari kepala menuju hati, dari kebenaran menuju keindahan. Dan puncak keindahan bernama keheningan. Bukan sembarang keheningan, tapi keheningan yang tersenyum pada semuanya. Termasuk tersenyum pada kekerasan yang mengendarai kebenaran. Mengulangi pesan sebelumnya, kegelapan bukan kegelapan, melainkan cahaya yang sedang berevolusi. Sesampai di sini, setiap tarikan dan hembusan nafas berubah wajah menjadi angin sejuk kedamaian.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. MR - Lambu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger