Ardiansyah, S.Pd - Di internet khususnya, ada banyak sahabat yang
takut sekali dengan kelompok tertentu yang dikabarkan menghabisi nyawa
orang lain secara jauh dari manusiawi. Akibatnya, terjadi ketakutan di
sana-sini. Ibarat lingkungan yang sudah gelap oleh mendung, ketakutan
menambahkannya lagi dengan awan gelap yang lain.
Di zaman dulu, pernah ada film berjudul licence to kill. Semacam
lisensi atau hak bagi orang-orang tertentu untuk membunuh orang lain.
Setelah dipelajari secara mendalam, lisensi (izin) itu turun dari
keyakinan merasa diri paling benar. Karena merasa diri paling benar,
kemudian orang-orang yang berbeda tidak diberi hak untuk hidup.
Bila ini yang disebut kebenaran, betapa menakutkannya kebenaran.
Pilosofi, agama, pengetahuan yang mencari di ladang-ladang kebenaran,
bisa menjadi wilayah-wilayah yang sangat membakar kemudian. Di titik
inilah, jiwa memerlukan keindahan.
Tiap manusia yang tertarik pada lawan jenis, mereka disebut jatuh cinta. Sederhananya, kesadaran seseorang sedang jatuh dari kepala menuju hati. Kebenaran lebih dekat dengan kepala, keindahan lebih dekat dengan hati. Itu sebabnya, orang-orang yang jatuh cinta merasakan hadirnya keindahan di mana-mana.
Tiap manusia yang tertarik pada lawan jenis, mereka disebut jatuh cinta. Sederhananya, kesadaran seseorang sedang jatuh dari kepala menuju hati. Kebenaran lebih dekat dengan kepala, keindahan lebih dekat dengan hati. Itu sebabnya, orang-orang yang jatuh cinta merasakan hadirnya keindahan di mana-mana.
Tidak semua masuk di akal, tidak semua bisa dijelaskan, tapi bisa
dirasakan kalau ada keindahan yang hadir di dalam hati. Ini yang bisa
menjelaskan kenapa Hellen Keller pernah berpesan: “Yang terindah dalam
hidup tidak bisa dilihat dengan mata biasa, ia hanya bisa dilihat oleh
mata hati”. Dalam bahasa film Little Princess, hanya hati yang bisa
membawa jiwa pulang.
Ini menghadirkan keingintahuan, apa beda antara kepala dengan hati?
Kepala adalah tempat yang jauh dari pusat keheningan di dalam, hati
berada jauh lebih dekat dengan pusat keheningan di dalam. Itu sebabnya
kepintaran suka memisah-misahkan realita ke dalam salah-benar,
buruk-baik. Kemudian membuat semuanya saling bertempur. Akibatnya,
kehidupan bertumbuh menjauh dari pusat keheningan di dalam.
Meminjam dari Krisnamurti, sejauh kepala penuh dengan dualitas dan
konflik, jangankan uang dan kekuasaan, bahkan agama dan Tuhan pun
menimbulkan konflik. Sedihnya, manusia sudah hidup terlalu lama dalam
konflik ala kepala seperti ini. Dan belum ada tanda-tanda peradaban akan
keluar dari akar konflik ini.
Bila kepintaran suka memisah-misahkan, kebaikan sebagai bahasa hati
sibuk membangun jembatan dengan semuanya. Di hati sering terdengar pesan
seperti ini: “Berbaik hatilah pada kekuatan kegelapan. Hanya karena ada
kegelapan kita bisa mengerti cahaya”. Di waktu lain, hati pernah
berpesan: “Anda semua adalah cahaya. Bahkan kegelapan pun adalah cahaya
yang sedang berevolusi”.
Bagi tiap jiwa indah yang berumah di hati, memasuki gerbang
ke-u-Tuhan lebih menarik dari berdebat soal Tuhan, merasakan hadirnya
keindahan lebih menawan dari berdebat soal kebenaran. Itu sebabnya,
orang-orang jenis ini sangat jarang membicarakan Tuhan (God), waktunya
habis untuk membadankan kualitas-kualitas ke-Tuhanan yang ada di dalam
diri (godliness).
Inilah perjalanan spiritual dari kepala menuju hati, dari kebenaran
menuju keindahan. Dan puncak keindahan bernama keheningan. Bukan
sembarang keheningan, tapi keheningan yang tersenyum pada semuanya.
Termasuk tersenyum pada kekerasan yang mengendarai kebenaran. Mengulangi
pesan sebelumnya, kegelapan bukan kegelapan, melainkan cahaya yang
sedang berevolusi. Sesampai di sini, setiap tarikan dan hembusan nafas
berubah wajah menjadi angin sejuk kedamaian.
Posting Komentar