Desa Simpasai (MR) – Belasan tahun
menggantungkan hidup pada bawang merah, Firdaus (35) belum merasakan keuntungan
yang layak. Bagi petani asal Desa Simpasai, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima,
Nusa Tenggara Barat, itu, panen bawang sekali ibaratnya hanya cukup untuk makan
sehari.
Firdaus mengatakan, dia butuh Rp 45 juta per
hektar untuk menanam bawang merah. Dengan hasil panen hanya 10 ton per hektar
dan harga bawang Rp 4.500 per kg, ia terpaksa puas hanya balik modal. Modal
tanam selalu ia pinjam dari orangtua atau tetangga sekitar rumahnya.
Tidak tahan dengan keadaan ini, Firdaus pernah
merantau ke Singapura menjadi tenaga kerja Indonesia. Namun, menjadi pekerja
kasar di Singapura tidak membuatnya sejahtera. Ia memilih pulang kampung.
Pertemuannya dengan seorang penyuluh swasta di
Bima tahun 2008 memberikan harapan. Ia ditawari teknologi pertanian baru, menanam
bawang merah dengan biji. Sebelumnya, petani Bima memilih umbi sebagai benih.
Di tengah keraguan petani lain, ia mencobanya.
Hasilnya menggembirakan. Benih biji hanya butuh
total biaya Rp 10 juta per hektar. Dengan 5 kg benih untuk lahan 1 hektar, ia
bisa panen 20-25 ton bawang merah yang laku dijual ke pengepul Rp 22.000 per
kg.
”Jauh lebih untung dan hemat dibandingkan pakai
umbi. Harga umbi sangat mahal. Dari modal tanam Rp 45 juta per hektar, sekitar
Rp 25 juta di antaranya untuk membeli benih umbi,” katanya.
Kini, rumah panggung senilai Rp 15 juta dan
sepeda motor Rp 12 juta ia dapatkan dari bawang merah. Ia tengah merajut mimpi
mengumpulkan uang untuk asuransi pendidikan anaknya. ”Saya tidak berani punya
mimpi seperti ini waktu tanam bawang pakai umbi,” katanya.
Bawang merah adalah produk hortikultura unggulan
Kabupaten Bima di Sumbawa. Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan
Tanaman Pangan Kabupaten Bima Adnan Adam menyebutkan, total lahan seluas 18.960
hektar, tetapi baru 7.000 hektar yang dimanfaatkan karena keterbatasan modal.
Namun, sukses petani bukan tanpa usaha. Mereka
harus belajar banyak dan telaten. Awaludin, petani Desa Kolo, Asakota, Bima,
mengatakan, mereka harus lebih sabar.
Sebelum menanam, ia harus membenihkan bibit
selama 5-7 minggu. Ia rutin mencuci bawang pembenihan dengan air bersih untuk
membersihkan sisa kotoran. Saat bibit dipindahkan ke area tanam, ia hanya
memberikan pupuk organik.
Anwar, petani Desa Sampungu, Kecamatan Soromandi,
juga terbiasa menghitung jarak tanam tepat 10 x 10 cm atau 5 x 10 cm.
Tujuannya, memberikan hasil panen lebih banyak karena biji akan menghasilkan
umbi tunggal. Cara itu tidak ia pahami sebelumnya saat menggunakan benih umbi.
Sentot Wiyono, penyuluh swasta dari PT East West
Seed Indonesia, Kabupaten Bima, mengatakan, kunci utama keberhasilan petani
Bima adalah kemauan belajar. Awalnya, petani sulit meninggalkan kebiasaan
konvensionalnya.
Mengatur bibit juga dilakukan petani bawang merah
di Brebes, Jawa Tengah. Mereka masih menggunakan umbi sehingga sulit
mendapatkan bibit murah di tengah harga bawang merah yang tinggi.
Toipah (48), petani bawang di Kelurahan Limbangan
Wetan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, beruntung terbiasa menyisihkan
sebagian hasil panen bawang merah untuk dijadikan benih. Itu disebabkan
sawahnya, yang hanya 2 kilometer dari pantai, agak asin sehingga benih bawang
yang ditanam harus dari wilayah setempat. ”Kalau membeli benih dari wilayah
selatan, nanti sulit hidup,” ujarnya.
Toipah dan suaminya, Anwar, adalah salah satu
dari keluarga petani di Brebes yang bersiap menanam bawang merah. Mereka akan
menanam bawang di lahan setengah bau atau 3.333 meter persegi. Mereka
menggunakan benih sendiri dari hasil panen Desember 2012.
Kebiasaan membuat benih sendiri memberikan hikmah
bagi Toipah di tengah tingginya harga bawang. Saat ini, harga bawang merah
eceran mencapai Rp 40.000 per kg, sedangkan harga bawang merah untuk benih Rp
35.000 per kg. ”Kalau saya harus membeli benih dengan harga sekarang rasanya
tidak sanggup,” tuturnya.
Menurut dia, harga bawang merah saat ini
terlampau tinggi sehingga kurang menguntungkan petani. Petani dengan lahan di
atas 2 hektar merasakan kesulitan mendapatkan bibit umbi.
Supardi (50), petani bawang merah di wilayah
Kecamatan Kersana, Brebes, mengatakan, harga bawang merah saat ini merupakan
harga tertinggi yang pernah dia temui selama menjadi petani bawang merah.
”(Harga) ini bukan lagi tinggi, tetapi sudah tidak wajar. Bisa melebihi harga
daging,” katanya.
Bagi petani bawang merah di Bima yang menggunakan
bibit biji, harga bawang merah yang tinggi memberikan keuntungan besar, tetapi
tidak bagi petani bawang merah di Brebes yang masih menggunakan bibit umbi.
Harga bawang merah yang tinggi membuat mereka tak bisa membeli bibit umbi
bawang.

Posting Komentar